LATIHAN SOAL MAPEL TARIKH KELAS 8
Belajarlah sekarang, meski sedikit. Usaha kecil setiap hari jauh lebih berharga daripada rencana besar yang tak pernah dijalankan. Kalau bukan hari ini kamu mulai menyiapkan masa depanmu, kapan lagi? Jangan biarkan rasa malas mencuri peluang yang seharusnya jadi milikmu. Masa depanmu dimulai dari langkah yang kamu ambil hari ini.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ, umat Islam akan mengalami perjalanan sejarah melalui beberapa fase. Manakah urutan fase tersebut yang benar?
a. Nubuwwah → Khilafah → Mulkan Adhon → Mulkan Jabariyyah → Khilafah kedua
b. Nubuwwah → Mulkan Jabariyyah → Khilafah → Mulkan Adhon → Khilafah kedua
c. Khilafah → Nubuwwah → Mulkan Adhon → Mulkan Jabariyyah → Khilafah kedua
d. Mulkan Adhon → Nubuwwah → Khilafah → Mulkan Jabariyyah → Khilafah kedua
Pada awal perjalanan umat manusia, Allah mengutus para nabi dan rasul untuk menyampaikan risalah-Nya. Fase yang dimulai sejak Nabi Adam hingga berakhir pada wafatnya Nabi Muhammad ﷺ.
Fase pertama perjalanan umat Islam menurut hadits Rasulullah ﷺ adalah…
a. Mulkan Adhon
b. Nubuwwah
c. Mulkan Jabariyyah
d. Khilafah ‘Ala Minhajin NubuwwahSetelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ, umat Islam tidak dibiarkan begitu saja. Allah memberikan karunia berupa kepemimpinan yang adil dan menegakkan syariat. Masa ini disebut Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah, yang dipimpin oleh sahabat-sahabat utama Nabi, dikenal juga sebagai ……
a. Dinasti Abbasiyah
b. Khulafaur Rasyidin
c. Kerajaan Umayyah
d. Dinasti Utsmaniyah
Seiring berjalannya waktu, umat Islam memasuki fase baru. Kepemimpinan tidak lagi berdasarkan musyawarah sebagaimana masa Khulafaur Rasyidin, melainkan berbentuk kerajaan turun-temurun, misalnya Dinasti Umayyah, Abbasiyah, dan Utsmaniyah. Inilah yang disebut fase …
a. Nubuwwah
b. Mulkan Jabariyyah
c. Mulkan Adhon
d. Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah
Meskipun umat Islam mengalami fase-fase sulit, Rasulullah ﷺ memberi kabar gembira. Akan datang kembali fase Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah era kedua, yaitu masa di mana umat Islam bersatu dalam keadilan, hidup sesuai syariat, dan menjadi Khairu Ummah sebelum turunnya Nabi Isa Al-Masih.
Fase terakhir yang disebut Rasulullah ﷺ, di mana Islam kembali tegak dengan keadilan, adalah…
a. Mulkan Jabariyyah
b. Nubuwwah
c. Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah era kedua
d. Mulkan Adhon
Sejarah perjalanan umat Islam terbagi dalam beberapa fase sebagaimana dijelaskan Rasulullah ﷺ. Setelah berakhirnya kekhalifahan Utsmaniyah pada tahun 1924, dunia Islam memasuki fase yang penuh dengan ujian berat, yaitu fase Mulkan Jabariyyah.
Fase ini ditandai dengan hilangnya kekhalifahan Islam sebagai pemersatu umat. Hukum Allah tidak lagi menjadi landasan utama kehidupan bernegara, digantikan oleh sistem buatan manusia. Para penguasa di berbagai negeri Islam banyak yang berkuasa dengan kediktatoran, menindas rakyatnya, dan tidak sedikit yang bersekutu dengan pihak asing demi mempertahankan kekuasaan.
Di masa ini pula, maksiat semakin merajalela. Pergaulan bebas, minuman keras, perjudian, hingga korupsi menjadi hal yang lumrah di banyak tempat. Media modern dan teknologi seringkali lebih banyak dimanfaatkan untuk menyebarkan keburukan daripada kebaikan. Generasi muda banyak yang terpengaruh oleh budaya hedonisme dan materialisme, sehingga meninggalkan nilai-nilai Islam.
Rasulullah ﷺ telah menggambarkan fase ini sebagai masa yang penuh kesulitan. Namun, bagi orang-orang beriman, fase ini juga menjadi ajang ujian keimanan: apakah tetap teguh memegang syariat Allah atau hanyut dalam arus dunia yang penuh fitnah.
Dari narasi di atas Fase umat Islam yang ditandai dengan hilangnya kekhalifahan, munculnya kediktatoran, serta maraknya kemaksiatan di berbagai tempat adalah…
Nubuwwah
Mulkan Adhon
Mulkan Jabariyyah
Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah era kedua
Setiap muslim tentu diajarkan untuk mencintai tanah airnya. Bagi kita di Indonesia, cinta kepada NKRI adalah bagian dari wujud syukur dan tanggung jawab menjaga amanah Allah. Dengan menjaga negeri, umat bisa hidup damai, beribadah dengan tenang, serta membangun masyarakat yang bermartabat.
Namun, Rasulullah ﷺ telah menegaskan dalam hadits bahwa perjalanan umat Islam akan melewati lima fase. Setelah fase Mulkan Jabariyyah yang penuh kediktatoran dan maksiat, kelak akan datang fase Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah era kedua. Pada masa itu, umat Islam akan kembali dipimpin dengan keadilan dan syariat Allah menjadi dasar kehidupan.
Artinya, betapapun kuat kecintaan kita pada bangsa dan negara, takdir Allah akan tetap berlaku. Peradaban Islam akan kembali berjaya dalam bentuk khilafah yang menyatukan umat, bukan untuk menghancurkan negeri-negeri, tetapi justru untuk membawa rahmat bagi seluruh alam. NKRI dan bangsa-bangsa lain hanyalah bagian dari perjalanan sejarah menuju terwujudnya janji Rasulullah ﷺ tersebut.
Menurut hadits Rasulullah ﷺ, setelah berakhirnya fase Mulkan Jabariyyah, umat Islam akan memasuki fase…
Kembalinya Nubuwwah pertama
Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah era kedua
Kerajaan turun-temurun (Mulkan Adhon)
Pemerintahan nasional modern seperti NKRI
Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, umat Islam memasuki fase kedua yaitu Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah. Pada fase ini, umat dipimpin oleh para sahabat Nabi yang dikenal dengan sebutan Khulafaur Rasyidin. Siapakah khalifah pertama setelah wafatnya Rasulullah ﷺ?
a. Umar bin Khattab r.a.
b. Utsman bin Affan r.a.
c. Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.
d. Ali bin Abi Thalib r.a.
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq memimpin umat Islam selama sekitar dua tahun. Sebelum wafat, beliau sempat menunjuk Umar bin Khattab r.a. sebagai pengganti untuk melanjutkan kepemimpinan umat.
Bagaimana wafatnya Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.?
a. Terbunuh dalam peperangan
b. Wafat karena sakit
c. Syahid akibat dibunuh pengkhianat
d. Gugur dalam perjalanan hijrahSetelah Abu Bakar wafat, tampillah Umar bin Khattab r.a. sebagai khalifah kedua. Umar terkenal dengan ketegasan, keberanian, serta keadilannya yang luar biasa, sehingga digelari Al-Faruq. Pada masa pemerintahannya, wilayah Islam meluas sangat pesat. Namun, pada akhirnya beliau wafat karena ditikam oleh seorang budak Persia bernama …
a. Abdullah bin Saba
b. Abu Lu’luah Al-Majusi
c. Yazid bin Mu’awiyah
d. Musailamah Al-Kadzdzab
Dalam sejarah Islam, banyak orang saleh yang wafat dengan cara dibunuh. Hal itu bukan berarti mereka orang jahat, melainkan bagian dari takdir Allah dan ujian bagi umat. Contoh yang jelas adalah para Khulafaur Rasyidin.
Umar bin Khattab r.a., khalifah kedua, wafat setelah ditikam oleh Abu Lu’luah Al-Majusi saat shalat Subuh. Padahal Umar dikenal sebagai pemimpin adil, tegas, dan sahabat Nabi yang dijamin surga.
Utsman bin Affan r.a., khalifah ketiga, juga terbunuh dalam rumahnya oleh para pemberontak. Beliau dijuluki Dzun Nurain karena menikahi dua putri Rasulullah ﷺ.
Ali bin Abi Thalib r.a., khalifah keempat, gugur akibat ditikam oleh seorang khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam. Padahal Ali adalah sepupu sekaligus menantu Rasulullah ﷺ.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa wafat karena dibunuh tidak otomatis menjadikan seseorang hina. Bahkan, bisa jadi mereka adalah syuhada yang mulia di sisi Allah.
Mengapa wafatnya seseorang karena dibunuh tidak selalu menandakan bahwa orang tersebut jahat?
a. Karena kematian ditentukan oleh takdir Allah, bukan sekadar sebab lahiriah
b. Karena semua orang yang dibunuh pasti masuk surga
c. Karena pembunuh selalu lebih baik dari yang dibunuh
d. Karena umat Islam dilarang menyebut orang yang dibunuh sebagai syuhada
Sejarah Islam dimulai dengan fase Nubuwwah, yaitu masa di mana Allah mengutus para nabi hingga Nabi Muhammad ﷺ wafat. Dari fase ini siswa bisa belajar bahwa Islam adalah agama yang bersumber langsung dari wahyu Allah.
Hikmah mempelajari fase Nubuwwah bagi siswa adalah…
a. Agar tahu nama semua nabi satu per satu
b. Menyadari bahwa Islam berasal dari wahyu Allah dan wajib diikuti
c. Supaya bisa membandingkan agama-agama lain
d. Agar hafal semua silsilah nabi
Fase kedua adalah Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah. Pada masa ini, para khalifah memimpin dengan adil sesuai syariat, sehingga umat Islam hidup damai.
Hikmah yang bisa diambil siswa dari fase Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah adalah…
a. Pentingnya memilih pemimpin yang adil dan taat kepada Allah
b. Wajib mendirikan kerajaan turun-temurun
c. Semua pemimpin pasti adil
d. Menolak kepemimpinan siapa pun
Setelah itu, umat Islam mengalami Mulkan Jabariyyah, yaitu masa kediktatoran, penindasan, dan maraknya kemaksiatan.
Hikmah mempelajari fase Mulkan Jabariyyah bagi siswa adalah…
a. Supaya terbiasa dengan kemaksiatan
b. Agar memahami bahwa ujian umat bisa sangat berat, sehingga harus sabar dan teguh iman
c. Meniru gaya hidup pemimpin zalim
d. Tidak perlu mengikuti aturan agama
Di suatu kelas, Pak Imam menyampaikan pelajaran agama. Namun, kali ini beliau tidak hanya membaca materi dari buku teks. Pak Imam berkata,
"Anak-anak, tidak semua ilmu harus tertulis di buku. Kadang saya perlu menyampaikan cerita atau wawasan tambahan supaya kalian lebih paham dan bisa melihat kehidupan dari sudut yang lebih luas. Ilmu itu bukan hanya untuk dihafal, tapi juga untuk diamalkan. Karena itu, dengarkan baik-baik, siapa tahu ada pelajaran berharga yang tidak ada di halaman buku kalian."
Para siswa pun menyimak dengan serius, karena mereka sadar bahwa ilmu yang disampaikan guru bukan hanya teori, tetapi juga bekal hidup di masa depan.
Apa hikmah yang dapat dipetik dari sikap Pak Imam ketika mengajar tanpa selalu terpaku pada buku?
Guru harus selalu menyampaikan hal-hal di luar materi agar terlihat pintar
b. Belajar tidak terbatas pada buku saja, tetapi juga bisa dari pengalaman dan wawasan
c. Buku tidak perlu dipelajari karena guru bisa menggantikan semuanya
d. Siswa tidak perlu mendengarkan penjelasan guru karena sudah ada buku
Setelah runtuhnya kekuasaan Aghlabiyah di Afrika Utara, muncullah sebuah dinasti baru bernama Fatimiyah. Dinasti ini berdiri pada tahun 909 M di Ifriqiyah (Tunisia). Pemimpinnya adalah yang mengaku sebagai keturunan Fatimah az-Zahra, putri Nabi Muhammad ﷺ. Dinasti ini berbeda dari mayoritas umat Islam, karena menganut aliran Syiah Ismailiyah.
Siapakah khalifah pertama Dinasti Fatimiyah yang mendirikan kekuasaan di Tunisia?
a. Al-Aziz Billah
b. Al-Hakim bi Amrillah
c. Ubaidillah Al-Mahdi Billah
d. Al-Mu’izz li-Dinillah
Setelah berhasil memindahkan pusat pemerintahannya dari Tunisia ke Mesir, Dinasti Fatimiyah mulai menunjukkan kekuatannya sebagai salah satu kerajaan besar dalam sejarah Islam. Puncak kejayaan Dinasti Fatimiyah terjadi pada masa kepemimpinan Al-Mu’izz li-Dinillah (953–975 M).
Pada masa inilah, kota Kairo benar-benar berkembang pesat sebagai ibu kota baru. Tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, Kairo juga menjelma sebagai pusat ilmu pengetahuan, perdagangan, dan kebudayaan. Pada masa Al-Mu’izz, berdirilah Masjid Al-Azhar yang kemudian berkembang menjadi Universitas Al-Azhar, salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di dunia.
Selain itu, Dinasti Fatimiyah pada masa Al-Mu’izz memiliki wilayah yang luas, meliputi Afrika Utara, Mesir, Suriah, bahkan hingga ke kawasan Hijaz. Stabilitas politik dan kemajuan ekonomi membuat era ini dikenang sebagai masa paling gemilang dalam sejarah Fatimiyah.
Dinasti Fatimiyah mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan…
a. Al-Aziz Billah
b. Ubaidillah Al-Mahdi Billah
c. Al-Hakim bi Amrillah
d. Al-Mu’izz li-Dinillah
Masa kejayaan Dinasti Fatimiyah bukan hanya terlihat dari luasnya wilayah kekuasaan, tetapi juga dari berkembangnya ilmu pengetahuan di berbagai bidang. Pada masa pemerintahan Al-Mu’izz li-Dinillah dan penerusnya, Mesir menjadi pusat keilmuan yang sangat penting.
Di bidang pemikiran dan filsafat, lahir banyak tokoh yang mengembangkan pemikiran rasional dan teologi. Perdebatan antara kalangan Sunni dan Syiah juga semakin memperkaya khazanah pemikiran Islam.
Dalam bidang ilmu hadis dan fiqih, ulama-ulama besar mengajarkan riwayat hadis serta memperluas kajian hukum Islam, meski Dinasti Fatimiyah menganut Syiah Ismailiyah, mereka tetap membuka ruang diskusi ilmiah dengan berbagai kalangan.
Bidang bahasa dan sastra Arab juga berkembang pesat. Kairo menjadi tempat berkumpulnya para sastrawan dan ahli bahasa, sehingga karya sastra klasik banyak dilestarikan dan dikembangkan.
Tidak hanya ilmu agama, Dinasti Fatimiyah juga mendukung ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Ilmu kedokteran, matematika, astronomi, serta ilmu alam berkembang dengan pesat. Perpustakaan besar didirikan, salah satunya di Kairo, yang menyimpan ribuan manuskrip ilmu pengetahuan.
Inilah yang menjadikan Dinasti Fatimiyah bukan hanya kuat dalam bidang politik, tetapi juga berjaya dalam ilmu dan peradaban.
Pada masa kejayaan Dinasti Fatimiyah, bidang ilmu yang berkembang pesat antara lain adalah…
a. Filsafat, hadis, fiqih, bahasa, dan ilmu pengetahuan
b. Seni lukis, musik modern, dan film
c. Industri, transportasi modern, dan teknologi digital
d. Perdagangan laut saja tanpa perkembangan ilmu
Dinasti Fatimiyah adalah satu-satunya dinasti besar dalam sejarah Islam yang menganut Syiah Ismailiyah. Mereka berkuasa pertama kali di Tunisia, lalu memindahkan pusat pemerintahannya ke Mesir dengan mendirikan kota Kairo dan Universitas Al-Azhar. Pada masa kejayaannya, Dinasti Fatimiyah berhasil membawa kemajuan besar dalam bidang ilmu pengetahuan, filsafat, fiqih, hadis, bahasa, hingga sains.
Namun, meskipun memiliki pencapaian besar, aliran Syiah yang dianut Dinasti Fatimiyah berbeda dengan akidah mayoritas umat Islam. Syiah memiliki ajaran-ajaran yang dianggap menyimpang, seperti mengkafirkan sebagian sahabat Nabi ﷺ, menghalalkan nikah mut’ah, serta meyakini adanya imam yang ma’shum. Karena alasan-alasan ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam fatwanya menilai bahwa ajaran Syiah menyimpang dari pokok ajaran Islam dan dikategorikan sebagai sesat.
Dengan demikian, sejarah Dinasti Fatimiyah memberi pelajaran berharga: kita bisa mengambil hikmah dari kemajuan ilmunya, tetapi tetap berhati-hati terhadap akidah yang bertentangan dengan ajaran Islam yang lurus.
Mengapa Dinasti Fatimiyah sering dikaitkan dengan aliran yang dianggap sesat oleh MUI?
a. Karena Dinasti Fatimiyah menganut Syiah Ismailiyah, yang ajarannya dinilai menyimpang dari akidah Islam
b. Karena Dinasti Fatimiyah tidak pernah berjaya dalam ilmu pengetahuan
c. Karena Dinasti Fatimiyah tidak pernah membangun universitas
d. Karena Dinasti Fatimiyah menolak peradaban modern
Beberapa literatur ekstrem Syiah mengandung riwayat yang sangat kontroversial, di mana mereka membolehkan praktik nikah mut’ah dengan batasan yang sangat longgar, hingga menimbulkan klaim seolah-olah menikahi bayi diperbolehkan. Hal ini jelas menyimpang dari ajaran Islam.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa ajaran Syiah yang ekstrem seperti ini menyimpang dari pokok ajaran Islam, karena menentang prinsip-prinsip dasar syariat, termasuk: keadilan, perlindungan anak, dan aturan menikah. Dengan memahami hal ini, siswa diajak untuk menilai ajaran berdasarkan akidah dan syariat Islam yang benar, serta mengambil hikmah dari sejarah umat Islam.
Mengapa menikahi bayi dilarang dalam Islam?
a. Karena Islam mengizinkan nikah kapan saja
b. Karena pernikahan harus dilakukan dengan kesadaran dan kematangan, sehingga menikahi bayi dilarang
c. Karena bayi lebih kuat secara fisik
d. Karena Syiah membolehkan semuanya
Setelah mencapai puncak kejayaan di Mesir, Dinasti Fatimiyah perlahan mengalami kemunduran. Hal ini terjadi karena beberapa faktor: perselisihan internal keluarga kerajaan, korupsi, tekanan dari pasukan Salib, ekonomi yang melemah, dan ketergantungan pada pasukan upahan (Mamluk). Semua faktor ini membuat Fatimiyah kehilangan kekuatan politik dan akhirnya digantikan oleh Dinasti Ayyubiyah pada 1171 M.
Salah satu penyebab kemunduran Dinasti Fatimiyah adalah…
a. Tidak pernah membangun Kairo
b. Perselisihan internal, korupsi, tekanan eksternal, dan ekonomi melemah
c. Tidak memiliki khalifah pertama
d. Terlalu fokus pada ilmu pengetahuan tanpa memperhatikan pemerintahan
Dinasti Fatimiyah terkenal karena mendirikan Universitas Al-Azhar di Kairo, menjadikannya pusat ilmu pengetahuan dan pendidikan Islam. Masa kejayaan mereka menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan adalah pondasi peradaban.
Hikmah yang bisa diambil siswa dari hal ini adalah…
a. Ilmu pengetahuan tidak penting bagi kemajuan bangsa
b. Belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan dapat membawa kemajuan
c. Pendidikan hanya untuk orang kaya
d. Fokus hanya pada kekuasaan politik
Kejayaan Dinasti Fatimiyah terjadi saat Al-Mu’izz li-Dinillah memimpin dengan adil dan bijaksana. Kepemimpinan yang adil membuat masyarakat makmur dan negara kuat.
Salah satu hikmah belajar sejarah Fatimiyah dari sisi kepemimpinan adalah…
a. Pemimpin yang adil membawa kemajuan masyarakat
b. Pemimpin boleh sewenang-wenang karena memiliki kekuasaan
c. Kepemimpinan tidak mempengaruhi kemajuan negara
d. Rakyat harus selalu patuh tanpa memikirkan keadilan
Setelah masa kejayaan, Dinasti Fatimiyah mengalami kemunduran akibat perselisihan internal, korupsi, dan tekanan eksternal. Sejarah ini mengajarkan pentingnya kesatuan, disiplin, dan integritas.
Hikmah yang bisa diambil siswa dari kemunduran Dinasti Fatimiyah adalah…
a. Mengabaikan kesalahan karena tidak penting
b. Belajar dari kesalahan masa lalu agar tidak mengulanginya
c. Menyalahkan orang lain selalu
d. Kemunduran adalah takdir yang tidak perlu dipahami
Belajar sejarah Dinasti Fatimiyah tidak hanya sekadar mengenal nama-nama khalifah atau wilayah kekuasaannya, tetapi juga memberi pelajaran berharga tentang kehidupan. Dinasti Fatimiyah mencapai puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan Al-Mu’izz li-Dinillah, ketika Mesir menjadi pusat ilmu pengetahuan, perdagangan, dan kebudayaan. Namun, setelah masa kejayaan, dinasti ini mengalami kemunduran akibat perselisihan internal, korupsi, dan tekanan eksternal.
Dari sejarah ini, siswa diajarkan untuk menjadi bijak: bisa meneladani hal-hal positif seperti kepemimpinan adil, kemajuan ilmu pengetahuan, dan strategi pemerintahan yang berhasil, serta mengambil pelajaran dari kegagalan masa lalu. Dengan demikian, siswa dapat menerapkan hikmah tersebut dalam kehidupan sehari-hari, membuat keputusan yang lebih tepat, dan menghindari kesalahan yang sama.
Hikmah yang bisa diambil siswa dari sejarah Fatimiyah agar menjadi pribadi bijak adalah…
a. Mengabaikan sejarah karena tidak relevan
b. Belajar dari kesuksesan dan kegagalan masa lalu untuk kehidupan nyata
c. Menyalin semua kebijakan dinasti tanpa pertimbangan
d. Hanya fokus pada kekayaan dan kekuasaan
Komentar
Posting Komentar